skip to main |
skip to sidebar
Cerita ini saya kutip dari acara Mario Teguh "Golden Ways", jadi postingan ini sifatnya tidak mengurui, tapi bersifat memberikan masukan inspirasi kepada pembacanya, langsung saja:
Dibalik tenang itu ada ketegangan, yang siap mengobrak-abrik menuju kehancuran, tak kenal waktu, tempat, bahkan usia, karena kahancuran memang berada dibalik ketenangan yang di awali dengan proses ketegangan. Lantas bagaimana menjaga agar ketenangan itu abadi???? aku merasa jawabannya berada pada individual diri kita hati kita sendiri, tentang pemahaman dari persoalan , tentang kedewasaan mengambil sebuah keputusan. yang mana didalamnya mencakup 2 aspek yaitu untung dan rugi.
Kalau kita cermati dalam kehidupan yang kita pegang adalah untung dan rugi. Kita ambil contoh dalam agama islam, kalu kita melaksankan segala perintah dari Allah swt insyaalah akan dapat pahala dan sebagai imbalannya adalah masuk surga, berarti hal ini bisa disebut juga untung. Dan sebaliknya kalau kita menjauhi segala larangannya maka insyaallah juga dapat imbalannya berupa dosa dan imballanya adalah neraka berarti kita mengalmi kerugian,karena masuk neraka.
* Lantas bagiamana pemahaman dari persoalan itu? pemahaman masalah itu adalah kita benar-benar menelaah, mengkaji dengan hasil olahan pikiran kita yang di dasari dengan baik dan benar, namun terkadang dalam hal ini akan selalu timbul keegoisan kita masing-masing yang kerap terjadi, mengapa? saya rasa itu hal yang lumrah karena merasa bahwa yang kita lakukan itu merasa benar, atau terkadang juga timbul sebuah tipuan yang bertujuan untuk sekedar menguji reaksi kita. jika timbul keegoisan kita masing-masing persoalan itu tak kan pernah berhenti atau mendekati pada kehancuran atau bisa juga persoalan itu akan terhenti dengan sendirinya tanpa ada yang merasa benar dan salah. Namun hal itu akan terus terjadi dengan waktu yang tidak begitu lama dan akan membahas hal itu kembali karena tidak adanya pemahamn persoalan yang terputuskan.
* Dan bagaimana pula tentang kedewasaan? kedewasaan lebih condong pada bijak yaitu diambilnya suatu keputusan dari hasil pemahaman persoalan dengan hasil pertimbangan yang cukup jauh dari hasil pemikiran,dan juga kesabaran, yang mana satu sama lain mendapat keuntungan tanpa ada perbedaan dan atau satu sama lian tidak merugi, juga bisa saja satu sama lain tidak merasa benar atau selau merasa salah. Dewasa tidak mengenal usia karena bisa saja umur 50 tahun atau belum dewasa.
Jadi intinya pemahaman persoalan dan kedewasaan sangat berhubungan erat yang didasari dengan komunikasi, karena tanpa komunikasi kita tak pernah tahu apa isi persoalan tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar